Kepala KUA Teluk Keramat Ikuti Rapat Kerja Nasional
Sambas (Kemenag Kalbar)---Rapat Kerja Nasional Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam 2026 You are invited to a Zoom webinar! When: Jan 22, 2026 08:00 AM Jakarta Topic: Tahun 2026 - Room 2, Join from PC, Mac, iPad, or Android: https://us06web.zoom.us/j/83531379014?pwd=BBNtRYxibPxcaXaO4xrwVj1JSrYGrL.1, Passcode:505050, diikuti Kepala KUA revitalisasi Kecamatan Teluk Keramat H. Ahadi, S.Sos bersama peserta lainnya.
Dipaparkan Prof. Burhanuddin Muhtadi, MA., Ph.D, "Indeks Pembangunan Bidang Agama merupakan alat ukur Kementerian Agama (Kemenag) untuk menilai berbagai aspek keagamaan di Indonesia, mencakup Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB), Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB), dan Indeks Kepuasan Layanan Keagamaan (KUA & Penyuluh), yang semuanya menunjukkan tren positif pada survei 2025, menunjukkan upaya Kemenag dalam memperkuat moderasi beragama dan kualitas layanan publik keagamaan berbasis data".
"Komponen Utama Indeks Pembangunan Bidang Agama, Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB), mengukur tingkat toleransi, kesetaraan, dan kerja sama antarumat beragama, dengan skor 77,89 pada 2025 (tertinggi dalam 11 tahun). Indeks Kesalehan Umat Beragama (IKsUB), mengukur dimensi sosial (solidaritas, relasi manusia, etika, lingkungan, dll.) dan individual, mencapai skor 84,61 (kategori sangat tinggi) pada 2025".
"Indeks Kepuasan Layanan Keagamaan (KUA & Penyuluh), menilai kualitas layanan KUA (skor 86,03) dan Penyuluh Agama (skor 84,67) berdasarkan sistem, kompetensi petugas, biaya, waktu, dan sarana prasarana. Indeks Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Agama, menunjukkan integrasi dan sinkronisasi program Kemenag dengan perencanaan nasional, di mana Kemenag meraih predikat tertinggi pada 2024".
"Tujuan dan Implementasi:
Basis Kebijakan, hasil indeks digunakan untuk merumuskan arah kebijakan keagamaan yang lebih efektif dan berbasis data (Evidence-Based Policy Making). Penguatan Moderasi Beragama, program difokuskan pada pendidikan agama yang moderat, dakwah inklusif, dan digitalisasi tata kelola keagamaan. Peningkatan Kualitas Hidup, meningkatkan kualitas pendidikan, pemberdayaan ekonomi umat, serta pelayanan publik keagamaan yang lebih baik".
Selain itu Habib Husien Ja'far Al Hadar membahas "ibadah bumi, implementasi ekoteologi untuk generasi Z, Ibadah bumi merupakan bentuk implementasi ekoteologi yang memaknai merawat lingkungan sebagai wujud nyata iman dan ibadah kepada Sang Pencipta. Bagi Generasi Z (Gen Z), konsep ini menggeser paradigma bahwa ibadah hanya ritual di dalam tempat ibadah, melainkan juga tindakan nyata menjaga alam semesta".
"Di tengah krisis iklim, ekoteologi mendorong Gen Z untuk melihat alam sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan. Berikut adalah implementasi ekoteologi "Ibadah Bumi" untuk Gen Z: 1. Konsep "Ibadah Bumi" sebagai Gaya Hidup, Merawat Bumi adalah Ibadah, Kemenag menekankan bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari amanah dan bentuk syukur, sehingga merusak alam dianggap menghambat ibadah".
"Eco-Sufistic Lifestyle, muslim muda mengintegrasikan teologi Islam dengan aksi ekologis (ekosufisme), di mana menjaga alam adalah ekspresi cinta kepada Tuhan. Kesadaran Ekologis (Eco-Literacy), memahami hubungan antara manusia dan alam untuk mendukung pembangunan berkelanjutan".
"2. Implementasi Nyata (Action-Based), Menanam adalah Ibadah, gerakan menanam pohon (seperti nangka) di lingkungan sekolah, madrasah, dan pondok pesantren sebagai implementasi ekoteologi. Kampanye Gaya Hidup Zero Waste: 78% Gen Z tertarik pada gaya hidup zero waste dan 16% sudah menerapkannya, seperti membawa tumbler dan tas ramah lingkungan".
"Manajemen Sampah Digital, Gen Z berinovasi mengembangkan aplikasi pengelolaan sampah dan produk ramah lingkungan berbahan daur ulang. Aksi Nyata Pemuda Lintas Iman, Pelatihan ekoteologi yang melibatkan pemuda lintas agama untuk melakukan aksi bersih-bersih lingkungan atau konservasi alam".
"3. Pendekatan Komunikasi dan Nilai Dakwah Digital Ekoteologi, menggunakan media sosial untuk mengampanyekan pentingnya menjaga lingkungan dari perspektif agama, yang lebih efektif menjangkau Gen Z. Eko-Eklesiologi (Konteks Kristiani), Gereja mendorong pemuda melakukan tindakan transformatif diakonia (pelayanan) untuk menyelamatkan bumi, seperti penanaman pohon dan pembuatan pupuk organik".
"Literasi Fiqh Al-Bi'ah: MUI mengeluarkan fatwa (No. 86/2023) yang menekankan pentingnya respons terhadap krisis iklim melalui pengurangan emisi dan pelestarian keanekaragaman hayati. 4. Peran Gen Z sebagai penggerak utama dalam perubahan kebijakan dan gaya hidup berkelanjutan, mendorong gerakan lingkungan melalui kampanye digital dan aksi sosial".(AHD)
0 Response to "Kepala KUA Teluk Keramat Ikuti Rapat Kerja Nasional"
Posting Komentar