Khutbah Ahadi Bahas: Malam Lailatul Qadar Tidak Bisa Kita Pastikan
Sambas (Kemenag Sambas)---Dalam khutbahnya Kepala KUA revitalisasi Kecamatan Sambas H. Ahadi di Masjid Agung Babul Jannah Sambas membahas "malam Lailatul Qadar tidak bisa kita pastikan kapan terjadinya, selain mengikuti prediksi para ulama, kita juga bisa memprediksi kedatangannya dengan mengamati kondisi alam yang terjadi".
Disampaikannya beberapa ciri-ciri malam Lailatul Qadar dilihat dari gejala alam berdasarkan beberapa hadits Nabi, "pada pagi harinya sinar matahari tidak terlalu panas dan cuaca terasa sejuk, berdasarkan hadits riwayat Imam Muslim, selain itu malam harinya langit terlihat bersih, tidak terdapat awan, suasana terasa tenang dan sunyi, udara juga tidak dingin tidak pula panas", katanya.
Khutbah H. Ahadi pada Jum'at 21/03/2025 bertepatan 21 Ramadhan 1446 H memaparkan, "dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda, “Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan tampak kemerah-merahan.” (HR Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi)".
Kepala KUA ungkapkan "prediksi berdasarkan gejala alam tersebut tidak bisa dijadikan acuan untuk bisa meraih malam Lailatul Qadar. Ibnu Hajar al-‘Atsqalani sendiri menegaskan bahwa ciri-ciri gejala alam tersebut akan tampak setelah malam Lailatul Qadar-nya, bukan sebelum atau saat sedang terjadi sehingga kita bisa mempersiapkan diri sebelum tepat kedatangannya. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fatḥul Bārī: juz IV, h. 260)".
Ditambahkannya dari beberapa pendapat ada banyak sekali ragam prediksi para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul Qadar. Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani sendiri menjelaskan setidaknya ada 45 pendapat terkait waktu terjadinya malam mulia tersebut. Hanya saja, dari sekian pendapat yang ada ia berkesimpulan bahwa argumen yang paling kuat adalah yang mengatakan terjadi pada tanggal-tanggal ganjil di bulan Ramadhan.
Sementara Imam Syafi’i lebih spesifik lagi berpendapat, tutur H. Ahadi, "tanggal 21 dan 23 Ramadhan lebih potensial terjadi malam Lailatul Qadar. Sedangkan mayoritas ulama termasuk Syekh Nidzamuddin an-Naisaburi berpendapat pada 27 Ramadhan. (Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Fatḥul Bārī: juz V, h. 463)".
Akhirnya H. Ahadi katakan "kesimpulan bahwa malam Lailatul Qadar tidak bisa diprediksi kapan tepatnya. Kita hanya bisa berusaha dan berikhtiar dengan memperbanyak ibadah selama satu bulan Ramadhan dengan harapan bisa meraih malam istimewa ini".(AHD)

0 Response to "Khutbah Ahadi Bahas: Malam Lailatul Qadar Tidak Bisa Kita Pastikan"
Posting Komentar